Black Campaign vs Negative Campaign: Peran Media dalam Penyebaran Informasi pada Kampanye Politik

Untitledpic source: here

Pendahuluan

Menjelang pemilihan umum atau Pemilu Presiden 2014, kondisi politik di Indonesia semakin memanas. Apalagi, setelah keluar nama bakal calon (balon) Presiden yang memiliki pendukung kuat di masing-masing pihak. Seiring dengan waktu Pemilu yang semakin dekat, yakni pada bulan Juli 2014, kita dapat melihat informasi yang beredar terkait kedua calon Presiden tersebut di media. Informasi yang tersebar pun tidak terbatas di televisi atau radio saja. Akan tetapi, sudah merambah ke media sosial yang merupakan salah satu alat penyebaran informasi populer di kalangan masyarakat.

Media disinyalir mampu membawa perubahan positif terhadap pandangan masyarakat, terutama tentang politik. Apalagi, mengingat di Pemilu sebelumnya, suara pemilih lebih didominasi oleh pemilih golongan putih (Golput). Hal ini dikarenakan anggapan masyarakat bahwa tidak ada perubahan berarti yang dilakukan oleh partai politik. Gejala ini oleh Muhtadi (2013 : 108) disebut sebagai gejala deparpolisasi, yakni fenomena psikologis yang menurunkan kepercayaan publik. Fenomena ini kemudian menjadikan partai politik untuk memutar otak dalam menarik perhatian pemilih.

Banyak dari partai politik yang mulai menggunakan media untuk menarik perhatian pemilih. Cara ini dinilai lebih efektif dibandingkan dengan orasi secara langsung yang membutuhkan orator unggul untuk menarik perhatian massa. Apalagi, sekarang masyarakat cenderung mengakses segala informasi melalui media. Menurut Michael Bauman (2007) dalam Burhanuddin Muhtadi, fenomena ini disebut telepolitics, yakni bergesernya peran partai dan munculnya dominasi media, terutama televisi, dalam memersuasi pemilih. Pergesaran fenomena inilah yang menyebabkan media mulai diisi oleh penyebaran informasi politik.

 

Penyebaran Informasi Politik di Media

Dalam UU 42 tahun 2008, kegiatan kampanye adalah kegiatan untuk meyakinkan para Pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program Pasangan Calon. Dalam hal ini, kampanye merupakan hal vital, sebab menyangkut partisipasi politik masyarakat. Apalagi, masyarakat yang ada sekarang sudah semakin cerdas dan kritis terhadap informasi yang beredar.

Kecerdasan masyarakat dan kritisasi inilah yang kemudian disebut sebagai bagian dari masyarakat informasi. Bell dalam Karvalics (2007 : 10) mengungkapkan bahwa masyarakat informasi adalah masyarakat yang mengatur sendiri pengetahuan di sekitarnya untuk kepentingan kontrol sosial, dan manajemen inovasi serta perubahan. Partai politik harus mampu mengasosiasikan keinginan masyarakat terhadap informasi yang beredar. Artinya, dalam proses penyebaran informasi, partai politik harus memikirkan dampak yang nantinya akan terjadi setelah informasi beredar bebas. Partai politik tentu tidak ingin kehilangan banyak suara dalam Pemilu hanya karena interpretasi publik terhadap partai tersebut.

Penyebaran informasi politik yang terjadi di ranah media, bukan serta merta hanya informasi biasa. Informasi yang beredar tersebut merepresentasikan keingintahuan masyarakat. Tak jarang, informasi tersebut membawa pandangan yang berbeda dalam diri masyarakat itu sendiri.

 

Black Campaign vs Negative Campaign dalam Pemilu

Dalam konteks penyebaran informasi di media sosial, sayangnya tidak ada alat filter untuk informasi yang beredar. Atensi publik pun terbagi dua, yakni antara percaya dengan informasi yang beredar di ranah publik atau mencari tahu kebenaran dari berita/informasi yang tersebar. Istilah black campaign (politik hitam) dan negative campaign (politik negatif) pun menjadi istilah populer menjelang Pemilu Presiden kali ini.

Black campaign merupakan serangan yang dilakukan untuk menjatuhkan nama calon Presiden dan cenderung untuk mengungkapkan berita/informasi tanpa adanya bukti yang otentik. Di lain sisi, negative campaign merupakan jenis kampanye yang mengeksploitasi kelemahan dan sisi kelam calon Presiden. Kedua jenis kampanya ini kemudian membentuk opini publik terhadap calon Presiden yang ada. Terkadang, kedua jenis kampanye ini bahkan dapat memprovokasi pendukung kedua calon Presiden untuk saling menjatuhkan.  Geer (2012 : 425) mengungkapkan bahwa berita media terbaru turut memberikan pengaruh terhadap kampanye negatif dan mendorong calon untuk memproduksi dan menyiarkan iklan negatif.

 

Kesimpulan

Webster (2006 : 30) menyatakan bahwa politik adalah “seni kemungkinan”, dan politik harus mampu untuk menanggapi setiap kemungkinan. Salah satunya adalah kemungkinan black campaign dan negative campaign. Partai politik harus berpikir matang untuk menjadikan media sebagai alat kampanye. Di satu sisi, media mampu meningkatkan popularitas sebuah partai politik. Akan tetapi, di sisi lain media juga mampu menjatuhkan popularitas partai politik. Partai politik harus memiikirkan segala kemungkinan dan juga baik buruknya penggunaan media sebagai alat pengenalan politik terhadap publik.

Dengan adanya media sebagai salah satu alat kampanye, masyarakat harus semakin kritis dalam menanggapi informasi yang beredar. Hal ini dilakukan tidak hanya agar masyarakat mampu melihat lebih dalam kemampuan calon Presiden. Masyarakat juga dapat memilah informasi yang beredar sehingga tidak hanya melihat dari satu sudut pandang saja. Akan tetapi, menempatkan diri pada lebih dari satu sudut pandang.

Dalam hal ini, ada dua kemungkinan yang terjadi jika masyarakat mampu meresapi penyebaran informasi dengan baik. Pertama, masyarakat akan menentukan pilihan dengan keyakinan tinggi karena mendapatkan informasi yang valid. Atau kedua, masyarakat akan cenderung untuk deparpolisasi, tidak percaya akan partai politik yang ada dan berujung pada Golput di pemilihan Presiden.

 

Daftar Bacaan

Ihsanuddin. (10 Mei 2014). Pesan untuk Relawan Jokowi, “Negative Campaign” Boleh, Jangan “Black Campaign”. Kompas. Diakses dari http://nasional.kompas.com/read/2014/05/10/1359305/Pesan.untuk.Relawan.Jokowi.Negative.Campaign.Boleh.Jangan.Black.Campaign.

Karvalicks, László Z. (2007). Information Society – What is it Exactly? (The meaning, history and conceptual framework of and expression). Diunduh dari http://www.ittk.hu/netis/doc/ISCB_eng/02_ZKL_final.pdf

Masha, Nasihin. (30 Mei 2014). Negative Campaign, Black Campaign, dan Bandul Suara Islam. Republika Online. Diakses dari http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/14/05/29/n6c7pl-negative-campaign-black-campaign-dan-bandul-suara-islam

Muhtadi, Burhanuddin. (2013). Perang Bintang 2014. Jakarta: Nourabooks.

Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 42 tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Jakarta: Sekretariat Negara.

Webster, Frank. (2006). Theories of The Information Society. Diunduh dari http://cryptome.org/2013/01/aaron-swartz/Information-Society-Theories.pdf

Geer, John G. (Juli 2012). The News Media and The Rise of Negativity in Presidential Campaigns. Proquest, 45(3). Diunduh dari http://search.proquest.com/docview/1019966455/fulltextPDF/E60E5A580ABF4EA6PQ/2?accountid=17242

 

ps : Entah karena gue kurang kerjaan atau emang nggak ada kerjaan. Ini adalah tugas UAS Take Home mata kuliah Informasi dalam Konteks Sosial Budaya. Emang sih judulnya udah diganti, karena kata bapake dosen kalo pake judul lama ntar dibantai sama anak komunikasi. Iyasih. Walaupun kontennya udah bener. Haha. Yaudah. Mungkin ada yang iseng mau baca. Lumayan. Daripada saling njelekin visi misi calon presiden, kan?😛


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s