{Book Review} Katarsis

katarsis

Judul : Katarsis

Penulis : Anastasia Aemilia

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Published : 2013

Jumlah halaman: 261 halaman

Rating : 4/5

Sinopsis : 

Tara Johandi, gadis berusia delapan belas tahun, menjadi satu-satunya saksi dalam perampokan tragis di rumah pamannya di Bandung. Ketika ditemukan dia disekap di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Polisi menduga pelakunya sepasang perampok yang sudah lama menjadi buronan. Tapi selama penyelidikan, satu demi satu petunjuk mulai menunjukkan keganjilan.

Sebagai psikiater, Alfons berusaha membantu Tara lepas dari traumanya. Meski dia tahu itu tidak mudah. Ada sesuatu dalam masa lalu Tara yang disembunyikan gadis itu dengan sangat rapat. Namun, sebelum hal itu terpecahkan, muncul Ello, pria teman masa kecil Tara yang mengusik usaha Alfons.

Dan bersamaan dengan kemunculan Ello, polisi dihadapkan dengan kasus pembunuhan berantai yang melibatkan kotak perkakas kayu seperti yang dipakai untuk menyekap Tara. Apakah Tara sesungguhnya hanya korban atau dia menyembunyikan jejak masa lalu yang kelam?

Katarsis /ka·tar·sis/ n 1 Kris penyucian diri yg membawa pembaruan rohani dan pelepasan dr ketegangan; 2 Psi cara pengobatan orang yg berpenyakit saraf dng membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dng bebas; 3 Sas kelegaan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis (dikutip dari KBBI online)

Bisa jadi, Anastasia Aemilia ingin menunjukkan bagaimana Tara, melepaskan dirinya dari trauma masa lalunya akibat pembantaian dan menjadi satu-satunya saksi dalam kasus tragis yang menimpa keluarganya.

Tara Johandi, satu-satunya anggota keluarga Johandi yang selamat. Tara ditemukan di dalam kotak perkakas kayu dalam kondisi syok berat. Dan dia pun terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa dibawah pengawasan Alfons, psikiater yang merawatnya.

“Rasa sakit itu ada untuk melindungimu, untuk mengajarimu banyak hal.” – p.182

Dan ketika ketika Tara sudah mulai menjalani hidup normalnya, muncullah Ello, lelaki kecil yang memberikan koin lima rupiah kepada Tara, “Mamaku bilang, kalau lagi sakit, kita harus pegang koin biar sakitnya berkurang.” Begitu kata ajaib yang Ello sampaikan pada Tara ketika pertama kali mereka bertemu. Dan bodohnya, atau mungkin ajaibnya Tara mempercayai itu. Dia selalu menyimpan koin lima rupiah itu dan membawanya kemana-mana.

Tapi, teror sepertinya tidak berhenti sampai disitu. Tiba-tiba Jakarta diselimuti ketakutan. Kotak-kotak perkakas setipe dengan kotak dimana Tara ditemukan menjadi banyak ditemukan, berisikan manusia. Dan yang mengherankan, manusia-manusia itu dalam keadaan mati. Tapi, tidak ada tanda perlawanan dari korban. Seolah, mereka masuk atas keinginan sendiri. Polisi pun dibuat ketar-ketir oleh keadaan ini. Alfons, yang merawat Tara setelah seluruh keluarganya meninggal, minus Arif, paman Tara yang tiba-tiba menghilang setelah dinyatakan koma meyakini bahwa kasus pembunuhan berantai yang ada di sekitar mereka itu sebenarnya akan bermuara kembali kepada Tara, seolah ada dendam yang belum usai. Belum tuntas.

Awalnya, direkomendasiin sama temen yang pengin baca tapi nggak berani baca setelah tahu ada adegan pembunuhan dan tertarik sama covernya. Cukup menggelitik saya, sejauh apa sih kengerian yang tergambar dalam cerita ini. Novel ini memiliki cerita yang cukup menarik dan memiliki tema yang cukup jarang digunakan sekarang ini, minim romance.

Alur campuran di bagian awal, lalu berubah menjadi alur maju tidak begitu mengganggu. Hanya saja, dua sudut pandang yang digunakan dalam novel ini – sudut pandang seorang Tara dan sudut pandang Ello yang ternyata sama-sama mantan pasien dari Alfons sedikit membingungkan. Mungkin karena mereka berdua sebenarnya masih sama-sama sakit dan memiliki semacam ketergantungan yang berlebihan terhadap koin lima rupiah.

Adegan demi adegan yang dibangun terasa menegangkan, terutama di bagian bagaimana si pembunuh—yang tidak akan saya sebutkan—membunuh korban-korbannya (ada beberapa yang dibunuh dengan kejam, bukan tanpa paksaan). Anastasia dengan berani menuliskan bagaimana si pembunuh membunuh korbannya, menutupi jejaknya, dan bermain seolah membunuh orang merupakan cara bagaimana si pembunuh untuk menaruh harta karunnya, melalui kotak perkakas itu. Tadinya, saya mengira akan ada sedikit adegan romantis, dan meskipun itu mustahil memang tidak ada sedikitpun. Hubungan aneh diantara Tara, Alfons, dan Ello yang seperti itulah justru yang membuat saya terus penasaran. Apakah orang seperti mereka bisa merasakan cinta?

Dan di tengah semua rasa itu, rasa takut dan bau kematian yang menyertai kisah ini terasa semakin memuncak pada detik-detik terakhir. Dan bisa jadi, pembunuh itu masih berkeliaran dan mengincar Anda, mungkin?

–sudah cukup. Semua sudah berakhir. Setidaknya, untuk sementara ini.—p.261

4 of 5 star for this book!


2 thoughts on “{Book Review} Katarsis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s