{Book Review} Amba

amba

Judul : Amba 

Penulis : Laksmi Pamuntjak

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Published : 2013

Jumlah halaman: 494 halaman

Rating : 4/5

Sinopsis : 

Dalam epik ini, kisah Amba dan Bhisma dalam Mahabharata bertaut (dan bertabrakan) dengan kisah hidup dua orang Indonesia dengan latar kekerasan tahun 1965.

Amba anak sulung seorang guru di Kadipura, Jawa Tengah. Ia meninggalkan kota kecilnya, belajar sastra Inggris di UGM dan bertunangan dengan Salwa Munir, seorang dosen ilmu pendidikan yang mencintainya. Pada suatu hari di Kediri, ia bertemu dengan Bhisma Rashad, seorang dokter muda lulusan Universitas Leipzig yang bekerja di sebuah rumah sakit.

Percintaan mereka yang intens terputus mendadak di tahun 1965, di tengah ketegangan dan kekerasan politik setelah Peristiwa G30S di Kediri dan Yogya.

Bhisma tiba-tiba hilang—ketika Amba hamil.

Beberapa tahun kemudian, setelah Amba menikah dengan seorang peneliti keturunan Jerman, datang kabar bahwa Bhisma meninggal. Ia meninggal di Pulau Buru.

Rupanya selama itu, sejak sebuah bentrokan di Yogya, Bhisma, dijebloskan dalam tahanan di Jawa, dan sejak akhir 1971 dibuang ke pulau itu, bersama 7000 orang yang dituduh ‘komunis’ oleh pemerintahan Suharto.

Amba, yang tak pernah berhenti mencintainya, datang ke pulau itu dengan ditemani seorang bekas tapol, seorang lelaki Ambon. Ia berhasil menemukan surat-surat Bhisma yang selama bertahun-tahun ditulisnya untuk dia—tetapi tak pernah dikirimkan, hanya disimpan di bawah sebatang pohon.

Dari surat-surat yang selama bertahun-tahun disembunyikan ini terungkap bukan saja kenangan kuat Bhisma tentang Amba, tetapi juga tentang pelbagai peristiwa—yang kejam dan yang mengharukan—dalam kehidupan para tahanan di kamp Pulau Buru.

Melalui penelitian bertahun-tahun, melalui puluhan interview dan kunjungan ke Pulau Buru, Laksmi menampilkan sejarah Indonesia yang bengis, tetapi justru dengan manusia-manusia yang mencintai. Dalam sepucuk suratnya kepada ayahnya Amba menulis:

Adalah Bapak yang menunjukkan bagaimana Centhini sirna pada malam pengantin… Adalah Bapak yang mengajariku untuk tidak mewarnai duniaku hanya Hitam dan Putih, juga untuk tidak serta-merta menilai dan menghakimi. Hitam adalah warna cahaya. Sirna adalah pertanda kelahiran kembali.

Amba adalah putri sulung dari raja di kerajaan Kasi dalam wiracarita Mahabharata. Tapi, Amba disini bukanlah putri raja. Bapaknya hanyalah seorang kepala sekolah dengan seorang istri, ibu dari anak-anaknya yang setia. Dan juga adiknya, si kembar Ambika dan Ambalika.

Amba, dihadirkan di tengah-tengah keluarga yang bahagia dan sederhana. Tapi, otak dan pemikiran Amba jauh melesak dan menjadikannya berbeda. Amba bukanlah adiknya yang berharap suatu hari akan datang pangeran berkuda putih yang melepaskannya dari tugas cuci piring dan memasak di dapur. Amba adalah sosok wanita yang dewasa terlalu cepat dan dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran yang tak biasa. Selepas SMA, Amba pun memilih satu keputusan yang kala itu bisa jadi bual-bualan, melanjutkan kuliah. Dan Amba-pun pergi, meninggalkan desanya dan kuliah di jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada. Amba muda memang diijinkan untuk kuliah. Tapi, orangtuanya telah menentukan jodohnya, Salwa. Dosen muda di UGM juga.

Oktober 1965….

Kala itu, suasana sedang mencekam. PKI menguasai negeri. Ada dewan revolusi. Tapi, Amba dengan tenang pergi ke Kediri. Dia membantu seorang kepala rumah sakit untuk menjadi translator dokumen-dokumen tentang kedokteran. Dan disitulah, dia bertemu Bhisma. Sosok yang kemudian membuatnya jatuh cinta. Bahkan, membuatnya lupa akan tunangannya, Salwa yang akan dinikahinya. Salah memang. Cinta itu tak seharusnya ada. Apalagi, di kala badai politik tengah meletup dengan kuatnya.

Hal itu pun terjadi. Ketika mereka berada dalam suatu tempat untuk sebuah acara, tentara tiba-tiba menyerang. Mereka berduapun terpisah. Dan tidak pernah bertemu kembali. Sampai akhirnya, Amba menyadari sesuatu. Ada yang tumbuh dalam dirinya. Anaknya dan Bhisma, kekasihnya.

Jauh setelahnya, Amba mendapatkan kabar dari surat elektronik yang dikirimkan kepadanya dan memberi kabar bahwa Bhisma sudah meninggal dalam pengasingannya di Pulau Buru. Amba pun diburu rasa ingin tahunya tentang kapan Bhisma meninggal, bagaimana, dan berbagai pertanyaan itulah yang mengantarkannya kesana.

Benar kata Sitok Srengenge, buku ini diceritakan dalam bahasa yang plastis dan cermat, apalagi referensi yang terdapat di dalamnya bukan sekedar referensi yang main-main. Terdapat beberapa saksi hidup yang Laksmi jadikan sebagai referensi beberapa kejadian dan adegan yang terdapat dalam novelnya.

Sayangnya, saya kurang suka dengan sinopsis yang terdapat di bagian belakang buku. Sinopsis ini seolah membuka semua tabir masalah yang terjadi dan menjelaskan bahwa pada akhirnya Bhisma itu memang mati. Titik.

Tapi, selepas dari itu semua. Saya menyukai diksi dan bahasa penulisan Laksmi. Kadang tajam kadang lembut. Dengan cermat, dia menghubungkan kisah Amba dalam mahabaratha dan dalam kisah ini tentunya. Meskipun Amba berusaha untuk merubah sejarah dan takdirnya, sebagai wanita yang dicampakkan oleh dua pria. Takdir tetap berkata sama. Sulit rasanya menggambarkan betapa apiknya sang penulis menuliskan novel ini. Tidak berlebihan jika saya memberikan 4 dari 5 bintang yang ada. Saya masih ‘gemes’ sama Amba yang baru mencari Bhisma setelah semua berakhir dan bersikukuh bahwa inilah jalan terbaik. Ya, keras kepala memang. Tapi, Amba setia. Meskipun dia akhirnya menikah dengan seorang asing yang membantunya menutupi dari aib, hatinya tetap untuk Bhisma, suami dalam hatinya itu.

Beberapa kalimat yang bikin makin jatuh cinta kepada novel ini :

“Kesetiaan selalu dikhianati, atau ia menanti selamanya untuk sesuatu yang tak pernah dimiliki.” –p.30

“Dalam dunia yang kauselami, Yang Mati tak pernah tidur; mereka menempati ruang yang sama dengan manusia sebagaimana manusia menempatinya bersama makhluk lain. –p.109

“Politik memang bukan tentang apa yang benar. Politik adalah bagaimana kita bisa salah dengan benar. —p.112

“Memasak tak ubhanya perkawinan. Belajar menunggu, dan jangan sekali pun memasukkan tanganmu ke dalam air yang keruh.” –p.129

“Yang kita dapat ketika menghirup udara adalah kasih sayang yang mahabesar dan yang tidak meminta kembali. Dan yang dapat ketika kita makan adalah jerih payah orang lain yang tidak kita kenal. –p.246

“Satu-satunya hal yang kekal adalah cinta orangtua pada anaknya. Dan cinta itu adalah yang bahagia melihat anaknya bahagia.” –p.291

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s