{Book Review} Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah Judul : Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Gramedia 

Published : January 17th, 2012

Jumlah halaman: 512 halaman

Rating : 3/5

Sinopsis : 

Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.  Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.

Apa yang kau pikirkan pertama kali jika menemukan pemuda dengan hati paling lurus? Selurus sungai kapuas? Apakah kau tahu kenapa leluhur kami menamakan kota kami dengan Pontianak? Padahal, pontianak adalah nama hantu dan dengan berbesar hati orang yang menaklukkan kota ini justru menamai kotanya dengan Pontianak.

Jika kita buang air besar di hulu kapuas, kira-kira butuh berapa hari kotoran itu akan tiba di muara sungai, melintas di depan rumah papan kami?

Itu adalah salah satu pertanyaan aneh yang pernah saya dengar. Begitupun dengan ayah Borno, ibu Borno, Pak Tua, Cik Tulani, dan Koh Acong yang jago menghitung.

Adalah Borno, anak berusia 12 tahun asli Kalimantan. Borno, anak muara Kapuas yang mempunyai rasa ingin tahu sangat tinggi. Dia mengalami masa kecil yang cukup menyenangkan hingga akhirnya ayahnya mengalami kecelakaan (dalam pekerjaannya sebagai nelayan) akibat tersengat ubur-ubur. Ayahnya memutuskan untuk mendonorkan jantungnya kepada seseorang yang sedang membutuhkan jantungnya. Borno menangis, menjerit, dan menyumpah. Siapa yang dengan beraninya mengambil nyawa ayahnya?

Borno pun akhirnya tumbuh dewasa sebagai anak sungai Kapuas. Tinggal berdua bersama ibunya. Lulus SMA dan bekerja dengan berganti pekerjaan. Hingga akhirnya, dia bekerja sebagai penarik sepit.

Kelakuan Borno yang lurus dan unik inilah yang membuatnya terkenal di seluruh penjuru sungai Kapuas sebagai penarik sepit termuda. Hingga akhirnya, bencana itu datang lagi. Muncullah seorang gadis cantik, keturunan China yang datang dan naik sepit Borno, meremas jantung Borno dan membuatnya seperti orang gila. Tersenyum meskipun dipukul kepalanya oleh Bang Togar. *haha. ini hanya perumpamaan anehku saja, kawan*

Dan dimulailah. Kisah cinta pertama Borno yang berusaha mengetahui siapakah gerangan si gadis yang menjatuhkan amplop berwarna merah di sepit tempat dia bekerja itu.

Lalu, munculnya, Sarah, dokter gigi Andi (sahabat sejak buaian Borno) yang ternyata adalah masa lalu Borno pun menguak segalanya. Semua hal yang selama ini selalu membuat Borno bertanya-tanya tentang kematian ayahnya.

Novel ini, bisa jadi masuk salah satu favorit saya. Bahasanya nggak lebay meskipun di awal saya sudah menemukan kelebayan ala sinetron yang muncul. Mau tahu? Ini bocorannya sedikit.

Bapak Borno sekarat–Ada yang butuh donor jantung–Borno nggak terima–Berhubungan dengan masa depan

Memang secara nggak langsung, Borno berhubungan dengan Mei (gadis berbaju kurung kuning itu yang akhirnya diketahui namanya setelah episode ke 100) yang hubungannya ini tak akan diceritakan karena nanti akan mengandung banyak spoiler. Tapi, cara penceritaan Tere Liye tentang konflik masa lalu diantara dua tokoh utama ini patut diacungi jempol. Meskipun saya bilang di awal bahwa ada sedikit adegan sinetron. Yasudahlah. Emang adegan itu harus sedikit lebay.

Saya sepakat dengan teman saya, Rifda bahwa Tere Liye ini sebenarnya hampir keseluruhan ide ceritanya bukanlah hal yang baru. Tetapi, dia pintar bermain kata dan menjadikan sebuah cerita menjadi sebegitu menariknya. Hal lain yang saya suka dari novel ini , banyak quote dengan kalimat sederhana yang ‘ngena’ di saya. Termasuk petuah Bang Togar dalam mendekati gadis idaman Borno, Mei.

Di kala Borno berusaha mengajak Mei jalan-jalan berkeliling menggunakan sepitnya dan berusaha mengikuti skenario yang ditawarkan oleh Andi. Meskipun, akhirnya Borno-lah yang diajak pergi oleh gadis idamannya itu.

Cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri. p. 228

Sering sekali. Sering banget malah. Kita udah ngelakuin segala cara biar orang yang kita suka tahu jalan pikiran kita. Tapi, pada akhirnya orang itu dengan sendirinya malah memberitahu apa yang kita ingin tahu. Duh, membaca buku ini membuat saya menjadi sedikit lebih romantis dari biasanya. Not my style, right?

Ada rahasia kecil diantara para gadis. Jika seorang gadis memberikan hadiah sebuah buku kepada seorang laki-laki, terlebih buku kesukaan dan hobi laki-laki itu maka laki-laki itu amat penting bagi gadis itu. p. 333

Nah,kalo quote yang ini bener-bener nusuk. Kira-kira lelaki yang sudah sering saya kasih buku itu sadar nggak ya saya suka sama dia? *uhuk*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s