{Book Review} Travel in Love

Travel in Love

 

Judul : Travel in Love

Penulis : Diego Christian

Penerbit : Nourabooks

Published : April, 2013

Jumlah halaman: 305 halaman

Rating : 2/5

Sinopsis : 

Di peron stasiun,
Aku berdiri dengan carrier 85 liter di sisi. Sebentar lagi rangkaian Argo Parahyangan akan membawaku mengawali perjalanan 30 hari: Jawa, Bali, dan Lombok.

Di atas bukit bintang,
Aku ditemani seorang sahabat yang masih berduka atas kekasihnya. Seperti aku yang belum merelakan si Pecinta Gunung, laki-laki si pemilik senyum teduh.

Di atas kapal yang berayun,
Aku harus kuat menghadapi hadirnya si Orang Asing. Juga ketika banyak rahasia yang terungkap atau kata-kata yang dulu tak terucap.

Di pantai yang indah,
Aku duduk menatap laut, sejauh ini aku tak tahu cinta macam apa yang kutemui di perjalanan ini. Karena perjalanan ini terlalu panjang untuk dilalui sendiri.

Di perjalanan ini,
Aku ingin kamu menemaniku…

Okay. Novel ini merupakan salah satu pemenang Nourabooks Academy (NBA), salah satu acara yang diadakan oleh Nourabooks dengan memberi tantangan menulis novel dalam waktu 30 (tiga puluh) hari. Seems interesting, right? So, let me check it.

 

Saya nggak tahu dengan novel dia sebelumnya yang katanya cukup bagus. Hanya saja, mungkin saya sudah kehilangan minat untuk membaca novelnya yang lainnya karena novel ini.

 

Novel ini berkisah tentang Paras, yang berusaha melupakan Kanta, orang yang disukainya dan tidak memberikan tanda-tanda cinta kepadanya. Bersama Jatayu, sahabatnya (anyway, dia perempuan) dia berkeliling Pulau Jawa hingga akhirnya sampai Lombok.

“Ras, diam aja? Nggak diapa-apain, kan, lo di kereta tadi? Jatayu yang tengah menyetir melirik Paras. “Lagian milihnya kereta ekonomi, sih! Kan, gue udah bilang, lo belum bisa naik kereta ekonomi sendi ….” p.27

Ditilik dari kalimat di atas, seharusnya memang Paras naik kereta ekonomi. Namun, jika kita membalik halaman depan, maka akan ada kejanggalan disini.

Kereta Argo Parahyangan, yang akan mengantar Paras menuju Bandung, baru akan datang setengah jam lagi. Suasa di dalam stasiun tidak ramai, tetapi juga tidak sepi. p.8

Sekilas, memang tidak ada yang aneh dengan dua kalimat yang saya tandai tersebut. Tapi, kalau kamu merupakan orang yang gemar berpergian dengan naik kereta, hal ini tentu akan sangat mengganggu. Paras menaiki kereta Argo Parahyangan yang notabene-nya adalah kereta kelas bisnis/eksekutif dengan segala kenyamanan yang ada. Sedangkan, disini diceritakan kalau Paras naik kereta ekonomi. Saya tidak tahu apakah ini karena penulis tidak melakukan penulusuran terlebih dahulu tentang nama kereta *ini penting menurut saya* karena hal inilah yang justru sangat mengganggu saya. Nggak tahu deh dengan pembaca yang lain. Meskipun, di perjalanan lainnya penulis sudah menuliskan nama-nama kereta ekonomi dengan benar. Tapi, untuk permulaan penulisan, penulis telah melakukan kesalahan yang bisa jadi menurut saya fatal.

Hal yang menggangu saya lainnya adalah tentang ‘kerempongan’ dari Paras saat hendak pergi backpacking. Dengan beraneka ragam perlengkapan yang menurut saya agak terlalu ‘berlebihan’. Saya disini kurang menemukan esensi seorang backpacker. Paras seolah hanyalah backpacker yang rajin posting dan update status melalui backhost.

Halaman demi halaman pun terlewati begitu saja, kecuali mengenai beberapa tempat yang menurut saya menarik. Mungkin karena hampir semua tempat yang didatangi sudah pernah saya kunjungi, jadi itu tidak begitu membuat saya penasaran. Gaya narasi yang terlalu panjang atau saya yang memang saat itu sedang mengantuk membuat saya menskip beberapa bagian.

Dan ketika muncul Sean, lelaki peranakan Bali-Swiss yang seorang backpacker juga dan menawari Paras untuk get lost ditambah munculnya Kanta yang tiba-tiba membuat saya dengan segera dapat menebak akhir dari cerita ini. Terasa klise sekali dan yah~ mudah ditebak.

Jadi, silahkan menilai sendiri. Kekuatan buku ini, menurut saya hanya terdapat pada tempat-tempat menarik yang ada di dalamnya. Selebihnya, say to sorry. Kurang berminat dengan ide cerita yang seperti ini. Mungkin, karena waktu yang diberikan untuk pembuatan novel cukup terbatas sehingga menjadikan novel ini kurang begitu matang. Bisa jadi. 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s