Mengapa Perkembangan Film Indonesia Menjadi Seperti Sekarang Ini?

bioskop

Bioskop Tanah Abang Jaman Doeloe~

Film bagi Indonesia bukanlah merupakan sesuatu yang baru. Masyarakat Indonesia telah mengenal film sejak diputarnya film pertama di bioskop Menage, Tanah Abang, Kebonjae pada tahun 1900. Industri film kemudian berkembang hingga akhirnya muncullah film Lotoeng Kasaroeng pada tahun 1926 sebagai film Indonesia pertama yang dibuat oleh sutradara Belanda, G.Kruger dan L. Heuveldorp.

Pada tahun 1930-an perfilman Indonesia berkembang dalam paham industri yang artinya membuat film berarti mencari keuntungan finansial. Selain L Heuveeldorf dan Kruger, ada F. Carli, keturunan Italia kelahiran Bandung. Lalu kemudian muncul orang-orang Cina yang berasosiasi dalam Wong Bersaudara.

Film Indonesia kemudian mengalami masa surut pada saat peralihan dari penjajahan Belanda ke Jepang karena film dianggap sebagai sarana/media propoganda dalam mencari massa. Semua naskah film wajib diperiksa dan dibredel apabila melanggar ketentuan.

Di masa selanjutnya, gempuran dahsyat film Hollywood ini telah menggulung industri film Indonesia di tahun 1990-an, dimana produksi film nasional mengalami kemerosotan yang menyedihkan. Di masa suram ini, produksi film setiap tahun bisa dihitung dengan jari tangan dan atas sebab ini Festival Film Indonesia (FFI) mati suri untuk sesaat.

G-30S

Di masa Orde Baru, dimana kapitalisme semu (ersatz capitalism) menjadi corak kapitalisme yang secara tidak sadar dianut oleh penguasa politik di masa ini. Film Indonesia menjadi makhluk asing di rumah sendiri. Dominasi film Hollywood ini tidak hanya secara kuantitas, namun secara kualitas menimbulkan mimikri pascakolonial. Konsep mimikri merujuk pada peniruan budaya yang dilakukan oleh aktor budaya di Dunia Ketiga terhadap representasi budaya yang ditampilkan oleh Dunia Pertama. Ide-ide film Hollywood yang menampilkan kelas dominan di masyarakat sebagai sosok pahlawan juga ditiru oleh film Indonesia yang selalu menampilkan kelompok sosial dominan sebagai pahlawan. Tidak aneh juga jika di masa Orde Baru, gagasan yang dimunculkan dalam film selalu berkutat pada wacana kelas dominan dan tentu saja merupakan ide yang menjadi arus dominan (mainstream) di masyarakat. Jarang sekali film menampilkan gagasan yang berbeda, memihak kelompok subaltern dan sekaligus membela kelas marginal. Ide pembangunan pun selalu muncul dalam berbagai film Indonesia di masa Orde Baru.

Setelah masa reformasi dan seiring dengan perkembangan teknologi, film Indonesia kemudian mengalami sedikit perubahan. Komodifikasi seksualitas berbalut dengan mistik kembali mengemuka dalam film Indonesia generasi pasca reformasi. Komodifikasi menggejala bukan hanya pada ranah seks namun bergerak secara massif ke dalam ranah religi.

film religi

Ada beberapa faktor yang menjadikan film Indonesia mengalami stagnansi. Dana merupakan faktor pertama dan utama dalam sukses atau tidaknya suatu film. Bukan berarti film dengan budjet yang besar akan menghasilkan film yang berkualitas pula. Namun, setidaknya alasan klasik inilah yang kemudian menjadi alasan utama kenapa sebuah film akan menjadi terkesan kacangan atau murahan.

Benturan agama, budaya, dan politik pun turut mempersulit perkembangan film Indonesia. Hal inilah yang sering menjadi alasan tentang hak tayang suatu film sehingga kita akhirnya terjebak pada tema itu-itu saja. Produser dan para insan film pasti akan berpikir panjang untuk membuat tema yang agak berani karena pasti akan menghadapi protes dan paling tragis akan dilarang padahal sudah melakukan produksi besar-besaran dengan jumlah dana yang tidak sedikit.

Yang ketiga adalah intelektualitas. Kecerdasan sineas merupakan jiwa dalam sebuah film. Jika kita perhatikan banyak adegan dalam film Indonesia yang terkesan janggal dan tidak masuk akal dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Penggunaan bahasa yang terkesan sangat ibukota pun akan mengganggu penonton yang kemungkinan tidak semuanya merupakan orang asli Jakarta. Dan yang ada kita selalu menentang film-film hantu dan menjurus ke seksualitas yang memenuhi bioskop lokal. Tapi, kita malah membatasi ruang gerak film-film bertema budaya, polotik, dan agama. Kita selalu menginginkan film itu berjalan dalam rel yang sudah semestinya, tidak melenceng sedikitpun. Yang ada, film dengan tema berani dan berkualitas menjadi tidak menarik di mata kita. Terlepas dari itu semua, dukungan kita sebagai penonton dapat menjadi pacuan bagi para sineas Indonesia untuk terus berkarya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s