{Makalah} Peran Multikulturalisme dalam Menjaga Eksistensi Budaya Nasional

 indonesia_culture_by_widjana

sumber gambar : arvinradcliffe.blogspot.com

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Ada banyak pengertian kebudayaan menurut para ahli. Salah satunya, Herskovits, seorang ahli antropologi asal Amerika. Herskovits mendefinisikan kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain. Pada hakikatnya, sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Ashley Montagu sebagai “way of life”,  cara hidup tertentu yang memancarkan identitas tertentu pula dari suatu bangsa.[1] (hal 219) bahwa kebudayaan bukanlah merupakan hasil penciptaan individu semata, melainkan penciptaan yang berasal dari interaksi antar individu. Sebuah kebudayaan baru dapat tercipta apabila terjadi interaksi antaranggota kelompok yang kemudian membentuk suatu aturan, norma, nilai, dan adat kebiasaan yang merupakan ciptaan sekelompok manusia tersebut.

Masyarakat Indonesia, sebagai salah satu kelompok kebudayaan yang tumbuh di alam Indonesia memiliki kebudayaan yang unik dan beragam. Salah satu keunikan dari kebudayaan masyarakat Indonesia adalah multikulturalisme. Pada dasarnya, multikulturalisme adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007).

Menurut Clifurd Geertz, Indonesia adalah negara yang majemuk, dimana akan membawa kita ke dalam bencana karena terdiri dari begitu banyak orang. Hal ini tentu berbanding terbalik dengan pengertian multikulturalisme yang mendukung kebijakan kebudayaan untuk menyetarakan segala bentuk perbedaan. Seringkali, multikulturalisme mengalami hambatan-hambatan untuk terjadinya

Modernisasi sebagai salah satu tantangan masyarakat global terus menggerus budaya nasional yang seolah tak punya arah pandangan hidup. Padahal, kebudayaan mencakup seluruh dinamika serta realisasinya menuju kesempurnaan atau kedewasaan. Sedangkan, masyarakat Indonesia saja sulit untuk merangkak menuju kedewasaan mereka.

IMGsumber gambar : uncleyono.blogspot.com

Masyarakat kita cenderung untuk manja, menerima segala keadaan yang ada dan menikmati semua hal yang diberikan tanpa adanya kritikasasi terhadap suatu tindakan. Seperti halnya prinsip ‘asal bapak senang’ yang populer di rezim Soeharto. Hal inilah yang kemudian menjadi pola pikir bangsa Indonesia. Mereka menganggap asal kedudukan mereka tidak mengalami pergeseran dan pertentangan dari masyarakat, mereka aman.

Lalu, dimana para pemuda? Dimana mereka yang bertugas untuk terus melestarikan budaya daerah? Budaya bangsa? Mereka seolah telah sibuk dan tersedot oleh arus globalisasi dan westernisasi yang terus menerus masuk ke negeri kita tanpa adanya filter yang mampu menahan atau menyaringnya.

Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Diam dan menunggu budaya nasional tergantikan oleh budaya lain sehingga bangsa kita tidak memiliki identitas yang jelas terkait jati diri bangsa? Padahal, sudah jelas bahwa kebudayaan nasional yang telah berkembang dan yang telah terwujud dalam segala bentuk kehidupan bangsa akan mempengaruhi daya pikir dan daya cipta warga-warga bangsa itu sendiri.

pembangunan nasional

sumber gambar : www.waspada.co.id

Pembangunan nasional sebagai salah satu pilar yang menunjukkan tingkat peradaban suatu bangsa tentu merupakan suatu proses yang panjang untuk menjadikan sebuah masyarakat berbudaya tradisional menjadi masyarakat modern. Budaya tradisional dalam hal ini dipersempit menjadi budaya daerah cenderung mendapatkan paradigma dari masyarakat sebagai sesuatu yang kolot, statis, dan anomie. Padahal, kebudayaan tradisional itu bersifat dinamis, selalu mengalami perubahan, dan karena itu tidak bertentangan dengan proses pembangunan itu sendiri. Pandangan yang keliru ini disebabkan oleh tidak adanya perencanaan pembangunan yang didasarkan pada evaluasi empiris, baik mengenai perencanaan itu sendiri maupun mengenai kebudayaan tradisional dimana rencana-rencana itu dilakukan. Salah satu implikasi penting dari hal ini adalah bahwa masyarakat Indonesia tidak mengenal penolakan terhadap pembaharuan. Tidak seperti pandangan khalayak mengenai masyarakat daerah. Masyarakat-masyarakat tradisional ini, tanpa terkecuali, menunjukkan suatu keterbukaan luar biasa terhadap pembangunan, tentu saja selama pembaharuan itu berguna bagi mereka[2]. Kita juga seringkali melupakan kearifan budaya lokal yang tentunya lebih cocok digunakan untuk daerah tertentu karena setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri, apalagi jika dikaitkan dengan aturan dan hukum adat setempat. Itulah mengapa, seringkali kebijakan yang ditetapkan mendapatkan pertentangan dari masyarakat setempat. Hal ini dikarenakan, kebijakan tersebut tidak sesuai dengan kepentingan mereka.

Sekarang, apalagi yang kita takutkan tentang keberadaan multikulturalisme? Nyatanya, multikulturalisme tidak semata-mata sebuah borok semata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa indonesia. Multikulturalisme bisa kita jadikan sebuah batu pijakan untuk menjaga eksistensi budaya nasional. Ada beberapa hal yang bisa kita jadikan acuan untuk menjaga keeksistensian kebudayaan nasional melalui multikulturalisme.

Penggambaran multikulturalisme bangsa Indonesia tercantum dengan jelas dalam pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar negara. Oleh karena itu, pancasila harus mampu memberikan jawaban dan pedoman yang jelas dan kongkret terhadap pertanyaan dan masalah nasional.[3] (216) Pancasila memiliki kedudukan kuat, mengikat, dan tak terbatas. Selain itu, bhinneka tunggal ika yang merupakan semboyan pancasila bisa kita jadikan pengingat kepada anak cucu kita nantinya, bahwa bangsa kita, bangsa Indonesia memang memiliki keanekaragaman kultur yang beragam. Hal ini bukanlah sebagai suatu permasalahan. Tapi, suatu tantangan yang harus dipecahkan. Sikap primordialisme memang penting, tapi integrasi bangsa akan membawa kepada suatu persatuan nasional seperti yang termaktub dalam Pancasila Sila Ke-3 “Persatuan Indonesia”.

Selain itu, perlu adanya kesadaran dan penyadaran bangsa. Suatu masyarakat tidak berhasil memperoleh kemajuan, apabila ia tidak sadar akan eksistensi dan nasibnya. Kesadaran menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya sekedar menjadi pengikut saja. Akan tetapi, tahu kemana arah dia harus berjalan dan perannya dalam pembangunan nasional yang bernilai kebudayaan nasional berdasarkan multikulturalisme.

Kebijaksanaan kebudayaan nasional Indonesia pada hakikatnya bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup bangsa sebagai satu kesatuan yang utuh dengan membekalinya kekuatan serta ketangguhan untuk menghadapi segala masalah hidup. Di samping itu, untuk memperbaiki taraf hidupnya di segala bidang secara bertahap dan merata. Multikulturalisme yang berpedoman pada sistem pancasila niscaya akan dapat mempertahankan eksistensi kebudayaan nasional.

 

Daftar Pustaka

Dove, Michael R. Ed. 1985. Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia Dalam Modernisasi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia

Poespowardojo, Soerjanto. (1993). Strategi Kebudayaan : Suatu Pendekatan Filosofis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama


[1] Poespowardojo, Soerjanto. Strategi Kebudayaan : Suatu Pendekatan Filosofis. (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1993), h. 219

 

[2] Dove, Michael R. Ed. Peranan Kebudayaan Tradisional Indonesia Dalam Modernisasi. (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1985), h. XLii

 

[3] Poespowardojo, Soerjanto. Strategi Kebudayaan : Suatu Pendekatan Filosofis. (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1993), h. 216

 

NB : suwer. ini absurd banget sampai akhirnya posting makalah ke blog. Tapi, mumpung lagi nggak sibuk. Yasudahlah. Saya posting makalah saja.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s