{Book Review} Call Me Miss J

Call Me Miss J

Judul : Call Me Miss J

Penulis : Orizuka

Penerbit : Nourabooks

Published : April, 2013

Jumlah halaman: 332 halaman

Rating : 3/5

7 Alasan kenapa harus baca buku ini :

1. Karena akhirnya saya menemukan buku dengan genre remaja yang cukup asyik di mata saya yang sudah cukup ‘dewasa’ ini

2. Karena buku ini merupakan salah satu karya author yang cukup terkenal dalam membuat novel remaja

3. Karena tokoh dalam novel ini mirip sama saya. read : dalam hal kepemilikan jerawat

4. Karena cowok perfect itu semuanya ‘bas**rd’

5. Karena menjadi populer bukanlah segalanya. This mean, jadi cewek nggak populer itu oke oke aja kok. Asal kamu populer di hati orang yang kamu suka.

6. Karena disini si cewek akhirnya sadar bahwa cinta itu memang buta. Dan saya sampai sekarang masih buta karena cinta yang terlalu lama menunggu ini. *curcol*

7. Karena endingnya bikin saya penasaran, siapakah Chace Crawford itu sebenernya?

Chace

 

*penampakan Chace Crawford* NB : gue masih condong ke Hoult deh kayaknya. :P

Yap! Akhirnya, saya berhasil menyelesaikan novel remaja bergenre ringan. Biasanya saya baca novel dengan genre kelas berat alias dewasa. Hahaha. Novel ini simpel. Berkisah tentang Azalea atau biasa dipanggil Lea, anak SMA biasa. Bisa dikatakan tidak cantik dan tidak buruk rupa. Hanya ada satu masalah dalam hidupnya. JERAWAT! Ya. Masalah typically yang dimiliki oleh anak seusianya.

Dia punya tiga orang sahabat. Vidi si ceplas-ceplos. Alex si pemberani dan hobi naik gunung. Dan Sabil, si pintar dan cengeng. Tambahan : Lea punya satu adik tiri yang seumuran dengannya dan satu gebetan yang juga adik kelasnya.

Lea tergila-gila setengah mati dengan Dimas, adik kelasnya yang menurutnya imut setengah mati. Apalagi, setelah Lea terkena ‘pukulan cinta’ dari Dimas berupa pecahnya jerawat di jidad Lea akibat lemparan bola basket dari Dimas itu.

Dimas mulai mendekati Lea, meskipun Vidi curiga ada campur tangan dari Barbie, ketua OSIS sekolah mereka yang diktator dan otoriter. Barbie berusaha sekuat mungkin untuk menjatuhkan Lea cs dengan segala cara.

Lalu, muncullah Raya. Cowok yang didaulat mirip Chace Crawford. Anak dari dokter kulit Lea sekaligus sahabat ibunya. Selanjutnya? Seperti biasa. Kisah romansa Lea akan dimulai. Pilih Dimas, Raya, atau bahkan Rio?

 

Ada beberapa poin yang saya tandai disini.

Seperti misalnya tentang seragam yang dipakai oleh sekolah Lea. Sedikit tidak masuk akal jika dipakai untuk di daerah tropis semacam ini. Dan yah~ Raya sudah menyinggungnya dengan baik. Penggunaan seragam yang salah. Hanya orang bodoh yang menganggap bahwa menggunakan sweater di tengah cuaca Indonesia yang begitu panas adalah keren, kecuali kalau orang tersebut memang ingin merasakan ‘sejuk’nya sauna setiap harinya.

Lalu, memang pemilihan ketua osis disini seperti ini? Which I mean, Jakarta. Saya dari dulu emang nggak pernah terlibat dengan kegiatan organisasi semacam OSIS, MPK, dsb karena saya lebih fokus dengan kegiatan belajar saya. Sama seperti Raya. Atau, hanya mengikuti tambahan pelajaran dan ekstrakulikuler yang saya sukai. Mungkin, di mata saya dan beberapa anak SMP yang lugu kala itu, OSIS adalah Organisasi yang Iropetin Siswa (read : Organisasi yang ngerepotin Siswa) dengan beraneka macam kegiatan, kita dituntut untuk ini itu dan jadi ‘babu’ (kasarannya) oleh sekolah untuk ngatur anak-anak SD/SMP yang baru masuk ke sekolah karena sekolah menganggap kita lebih kompeten untuk mengatur anak-anak itu. Meskipun pada kenyataannya, TIDAK.

Saya menangkap, banyak dari senior yang merasa superior dan menindas junior. Memberinya hukuman yang tidak masuk akal. Sama seperti Sabil. Saya pernah kena oleh senior hanya karena kaos kaki sebelah kiri dan kanan tidak sama tingginya. Kalau tidak salah, kaos kaki sebelah kiri tingginya kurang 0,5cm. Dan sayapun harus balik badan lalu menerima hukuman squat-jamp selama 10 kali. Hal yang sungguh tidak masuk akal!

Mungkin, ini masih lebih baik dibandingkan dengan teman saya yang dikerjai dengan cara dimarah-marahi oleh senior di muka umum saat LDK MPK (Musyawarah Perwakilan Kelas. Kasarannya, DPM kalau di kampus) gara-gara dia sedang ULANG TAHUN! Sungguh. Saya pikir saya telah melakukan kesalahan besar dengan ikut acara LDK seperti itu. Saya berpikir bahwa MPK itu berbeda dengan OSIS yang ada di sekolah saya karena mayoritas anak SMA yang ada di sekolah saya berasal dari SMP dimana saya berada. Ya, orang itu-itu saja yang masuk OSIS dan pasti mereka dipilih berdasarkan penampilan fisik. Bukan otak. Jadi, kami. Para siswa yang selalu sinis dengan OSIS selalu menganggap bahwa anak OSIS tidak ada yang berotak. Mereka hanya bermodalkan tampang dan uang tentu saja.

Begitu saja dulu sesi curhatnya. :P

 

Anyway, emang gimana sih mekanisme pemilihan ketua OSIS di Jakarta? Saya yang nggak gaul atau emang mekanismenya begitu? Asal daftar trus bisa jadi ketua kalau ada yang milih?

 

Cukup sekian review dari saya. Novel ini saya beri bintang tiga. Artinya, saya cukup suka. Nggak terlalu bagus. Nggak terlalu buruk. Cukup kocak dan remaja banget. Yang saya suka, novel ini tidak terlalu berlebihan dalam menunjukkan gaya remaja sekarang. Well, remaja sekarang itu kan brutal-brutal. ==”

 

Pelajaran yang saya ambil dari novel ini :

1. jerawat itu memang masalah hormonal kok. Wajar kalau anak seusia ‘SMA’ bertemu dengan mereka.

2. Cinta juga bakalan datang dengan sendirinya. Meskipun saya sendiri belum menemukan cinta itu. Benang merahnya masih nyangkut kali ya entah dimana.

3. Harus sering-sering nongkrong di lapangan bola. Siapa tahu nemu cowok bermodel kayak Raya. *lupakan*

Favorite quotes :

From zero to hero

 

4 thoughts on “{Book Review} Call Me Miss J

  1. komen boleh ya ^^

    ga tau kenapa aku kok kurang begitu suka dengan novel2nya orizuka ._.v mungkin ini selera ya .-. sama seperti kalo aku bilang novel twilight saga itu membosankan >< (diinjek fans2nya)

    untuk teelit aku lebih suka gaya ceritanya Dyan Nuranindya sama Esti Kinasih. ya Agness Jessica juga lumayan ._. hihihihi

    trus soal OSIS ga semuanya gitu kok ^^ mungkin kalo LDK emang pada belagu tapi benernya OSIS yang baek ga seperti itu == soalnya dulu pas jaman aku ikut OSIS selama di SMP-SMA ga begitu2 juga ._. mungkin aku pas beruntung hehehehe ^^v

    • boleh dong. waaah. akhirnya ada yang komen selain di blog kyura. xoxoxo. aku juga ga begitu suka novel bergenre teenlit. ini termasuk yang paling lumayan loh. ceweknya nggak melulu ugly duckling became a swan kaya novel teenlit kebanyakan trus juga pendekatan si Dimas yang nggak bisa dibilang getol kaya cowok yang biasanya cuma mau ngerjain ceweknya. twilight pun aku belum baca. hahaha.

      emm~~ kalau teenlit sih musiman akunya. tergantung bukunya kali ya? wahahaha. beda kali ya osis di desa sama di kota? aku nggak begitu ngerti dengan masalah OSIS begituan sih. Habisnya, ya udah underestimate dulu sama anak osis disini. :p

      • muahahahaha iya kali ya kkkk beda tempat beda budaya. aku kalo twilight dulu awal baca pas dijadiin bookclub di koran, tapi aku skip jadi baca awal sama endingnya langsung hahahaha yg menurutku bagus itu cuman breaking dawn aja sisanya aku ga suka hahahahahaha

        iya siy, benernya teenlit itu ternodai oleh gaya2 alay jaman sekarang. padahal yang dimaksud teenlit itu kata temen aku (dia ikut seminar nulis buku) genrenya aja yang buat remaja. tata cara penulisannya benernya ya sama aja kayak novel biasa. cuman, karena banyaknya bahasa slang yg dipake akhirnya banyak orang yang anggep novel teenlit itu alay padahal ya ga semua siy, tergantung sama penulisnya juga hihihhihi

      • hahaha. bener banget. temen sekamarku yang punya full packagenya *yang udah ilang* aja bilang cuma breaking dawn yang bagus. huum. dulu bagus loh padahal teenlit jaman dulu. duh, berasa tuwir nih saya. ==”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s